Connect with us

Ekbis

Dugaan Penipuan, BPR Christa Jaya Kupang Dipolisikan Nasabah

Berita Terupdate

Published

on

KUPANG– Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Christa Jaya Perdana Kupang dipolisikan nasabah karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan.

Bersama kuasa hukumnya, nasabah berinisial MM (49) warga jalan Oekam, RT 007 RW 003, Kelurahan Sikumana melaporkan BPR Christa Jaya ke Polda NTT. Laporan tersebut tertuang dalam nomor LP/B/184/V/Res.1.11/2019/SPKT, pada 22 Mei lalu.

Kuasa Hukum MM, Herri Batileo mengatakan kliennya melaporkan BPR Christa Jaya karena diduga mengelapkan sejumlah barang jaminan milik MM.

Baca juga : Bank Christa Jaya Raih Penghargaan Top 100 BPR 2019

Laporan ke Polda NTT itu karena MM merasa dirugikan ole Bank BPR Christa Jaya melalui surat pemberitahuan bulan maret 2019 lalu.

“Bank Christa Jaya disangkakan melanggar hukum, pasal 372 KUHP dengan delik aduan penggelapan dan pasal 378 KUH dengan delik penipuan,” ujar Herri kepada wartawan, Senin (17/6/2019).

Dalam surat pemberitahuan itu, Bank BPR Christa Jaya menyatakan bahwa nasabah MM, selaku alhi waris dari suaminya, Welem Dethan (almahrum) memilki tunggakan saldo kredit sebesar 224 juta di Bank Christa Jaya.

Sementara MM merasa tidak memiliki utang di bank karena segala utang piutang antara Bank Christa Jaya dengan suaminya tidak diketahuinya.

Baca juga : Lagi, Uang Nasabah Bank NTT Hilang Misterius

Menurut Herri, dugaan penggelapam itu diketahui setelah MM mendatangi kantor Bank BPR dan diketahui pihak bank telah secara sepihak dan tanpa sepengetahuan dirinya selaku istri sah dari suaminya, Wellem Dethan, mendroping pinjaman ke rekening Wellem Dethan sebanyak 110 juta dan pinjaman sebesar 200 juta pada tahun tahun 2017. Ditemukan juga fakta bahwa pinjaman tersebut tidak melaui perjanjian kredit.

Sebagai alih waris, kata Herri, kliennya merasa dirugikan dengan tindakan yang dilakukan Bank BPR Christa Jaya dengan tidak mengembalikan dua sertifikat tanah seluas 488 meter persegi di kelurahan Sikumana dan sebidang tanah bangunan SHM seluas 334 meter persegi yang menjadi jaminan sebelum almarhum meninggal.

Siap Hadapi Proses Hukum

Laporan MM dengan kuasa hukumnya ditanggapi pihak BLR Christa Jaya. Manager BPR Krista Jaya, Wilson Lyanto mengatakan, sebagai warga negara yang baik dan patuh kepada hukum, pihaknya siap menghadapi proses hukum dan menyerahkan sepenuhnya proses ini kepada pihak berwajib.

Ia membantah jika BPR Christa Jaya disebut melakukan penipuan dan penggelapan terhadap barang jaminan nasabah karena penandatanganan surat perjanjian kredit ditandatangani oleh alamhrum wellem Dethan dan isterinya, MM.

“MM tidak akui punya utang di BPR, tetapi yang jelas kami punya data, apalagi saat itu MM sebagai ahli waris ikut menandatangani surat perjanjian kredit. Aturan jelas, setiap utang piutang yang ditinggalkan oleh suami/isteri maka diturunkan ke ahli waris,” ujar Wilson, Selasa (18/6/2019).

“Apalagi saat itu almahrum Wellem Dethan dan isterinya MM tidak mau tandatangani asuransi jiwa. Jika ditandatangani maka dengan sendirinya utang piutang ditangguhkan. Tetapi saat itu mereka menolak,” tambahnya.

Terkait surat pemberitahuan kepada MM dari pihak bank, Kepala Bagian Kredit, Yunus Laiskodat mengatakan surat pemberitahuan merupakan hak bank untuk menegur nasabah yang memiliki perjanjian kredit. Surat pemberitahuan merupakan tahap awal sebelum adanya surat peringatan.

“Yang jelas kami lakukan sesuai tahapan, dari surat pemberitahuan, peringatan hingga eksekusi atau barang jaminannya kita lelang,” katanya. (Terupdate/L6)