Connect with us

Flores Timur

Seruan Damai Wabup Flotim Untuk Penyelesaian Sengketa Tanah di Adonara

Berita Terupdate

Published

on

ADONARA– Wakil Bupati (Wabup) Flores Timur Agustinus Payong Boli menggelar open house dan halal bihalal hari raya Idulfitri 1440 bersama segenap masyarakat lintas agama di kota Waiwerang, Adonara, Kamis (20/6/2019).

Hadir di acara itu, tokoh masyarakat, tokoh agama Islam, Romo dekan Adonara, pendeta, tokoh pemuda serta ratusan umat beragama lainnya.

Baca juga : Larantuka Diusulkan Jadi Kota Suci Umat Katolik Indonesia

Menariknya, dalam acara yang penuh toleransi itu, politisi Partai Gerindra ini menyerukan adanya pembaharuan Nayu Baya atau perjanjian damai secara adat yang di meteraikan darah hewan di pulau Adonara.

Pembaharuan Nayu Baya itu menurut Agus, agar ke depan masalah konflik tanah atau lainnya di Adonara diselesaikan secara damai adat tanpa harus perang tanding yang menelan korban jiwa.

Seruan Wabup ini direspon positif oleh seluruh peserta open house dan halal bihalal dengan menandatangani pernyataan rekomendasi damai di tanah Adonara.

Pancasila Lamaholot

Agus mengatakan, masuknya agama katolik di Lamaholot pada abad ke-15 dibawa oleh bangsa Portugis. Agama Islam masuk abad ke-15 dibawa oleh pedagang Pelembang di kesultanan Menanga, Solor Timur. Sedangkan, agama Protestan masuk di abad ke-16 oleh bangsa Belanda.

Meski demikian, menurut Agus, rumah Lamaholot dan segala tradisi agama aslinya sudah ada, jauh sebelum masuknya agama.

“Sejak, buta mete,walan mara, tana tawan-ekan gere. Karena itu mari kita rawat toleransi di rumah Lamaholot dengan semangat kakan keru,arin baki,” ujarnya.

Baca juga : MUI Flores Timur Dukung Usulan Larantuka Jadi Kota Suci

“Kata kunci menjaga toleransi adalah dengan menjaga dan merawat Pancasila di Indonesia,” sambungnya.

Menurut Agus, Nobo Lema di Lamaholot diyakini sebagai Pancasilanya Lamaholot yang berbunyi :

Nobo Toun : Ama Tuan Rera Wulan,Ina Guna Tana ekan.
Nobo Ruhan : Kakan Keru,arin baki.
Nobo Telhon : Puin taan uin,gahan tahan kahan.
Nobo Paten : Pupu Hugu,tobo baun hama2 tutu maring umenglamak Lewotan
Nobo Lemhan : Tekan tabe gike hukut,tenu tabe lobo luan.

Ia mengajak seluruh masyarakat Flores Timur untuk terus menjaga Pancasila sebagai bentuk merawat Nobo Lema sebagai dasar falsafah hidup di Lamaholot.

Baca juga : Gema Toleransi di Pekan Suci Semana Santa Flores Timur

Sementara Ustad muda dari Menanga, Solor Timur, Sunarjo Pati Negara mengatakan toleransi di Lamaholot Flores Timur adalah mutlak karena Islam dan Katolik adalah saudara dalam rumah Lamaholot.

“Kita hanya beda kamar kos tetapi rumah kita satu yakni Lamaholot. Mari kita rawat persaudaraan dan toleransi antar sesama umat beragama,” tandasnya. (Terupdate/L6)