Connect with us

Flores Timur

Ornamen Suci Semana Santa Dibawa ke Bali, Konferia : Ini untuk dukung program pariwisata

Berita Terupdate

Published

on

LARANTUKA– Umat katolik di Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim) mengecam adanya ornamen suci Semana Santa dibawa saat Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Karang Asem, Bali.

Pemda melalui Dinas Pariwisata Flotim, pihak gereja, keuskupan, raja Larantuka dan konferia atau prokodo yang memiliki otoritas tertinggi terhadap keberadaan ornamen Semana Santa dituding telah mengkomersialkan ornamen sakral itu. Ornamen suci yang dikeluarkan dan dibawa ke daerah lain untuk kepentingan pariwisata dianggap tabu bagi umat katolik Larantuka.

Baca juga : Umat Katolik Flores Timur Kecam Adanya Ornamen Suci Semana Santa di Bali

Kecaman umat katolik itu pun ditanggapi pihak konferia atau prokodo. Yohanes Yance da Silva selaku prokodo mengaku ornamen suci Semana Santa yang dikeluarkan ke Bali itu semata-mata hanya untuk mendukung program pemerintah daerah di bidang pariwisata.

“Ini hanya karena mau mendukung program pariwisata, itu saja,” ujar Prokodo, Yohanes kepada wartawan, Senin (24/6/2019).

Baca juga : Perempuan Berhijab Hingga Nazar yang Terkabul di Prosesi Semana Santa

Ia mengatakan, ornamen Seman Santa yang dikeluarkan itu atas keputusan bersama dalam rapat pleno pihak terkait. Rapat pleno itu digelar setelah kepala dinas pariwisata dan kebudayaan Flotim mengusulkan ke konferia terkait rakernas JKPI yang membawa ornamen Semana Santa.

“Mengeluarkan barang suci ini harus melalui rapat. Saya undang pengurus inti, kami rapat di kapela Tuan Ana,” katanya.

“Saat pertemuan awal tidak di hadiri raja Larantuka, Don Tinus. Saat pleno kedua baru beliau hadir dan menentukan ornamen-ornamen mana yang dibawa,” sambungnya.

Foto : Ornamen Semana Santa yang dibawa saat Rakernas JKPI di Bali

Ia menjelaskan, ornamen-ornamen Semana Santa yang dibawa yakni, pakian ajudan kurang lebih 20 lembar, pakian lakademu 2 lembar, topi lakademu dan panji persisan. Semua ornamen itu, kata dia, dikeluarkan dari kapela Tuan Ana.

“Saat prosesi kecil, barang lain bisa dibawa tetapi ada barang lain yang tidak boleh dibawa apalagi ke luar daerah.

Kalau panji memang harus dibawa, karena persisan harus ada panji. Tetapi topi lakademu dijahit sendiri, aslinya tidak bisa dibawa keluar,” jelasnya.

Sementara itu, Pastor Paroki Katedral,
Romo Hendrik Naran Leni, Pr enggan berkomentar banyak terkait persoalan ini. Meski demikian, ia mengaku keputusan membawa ornamen suci Semana Santa itu tidak melibatkan pastor paroki.

“Keputusan mereka sudah ambil, mereka ke sini hanya penyampaian saja. Saya tidak berani berkomentar banyak dengan tradisi- tradisi yang ada. Saya tidak mau melangkahi Bapak Uskup. Mari kita tetap saling menghormati dan saling menghargai,” katanya.

Jaringan Kota Pusaka

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flotim, Apolonia Korebima mengakui ornamen-ornamen yang berada di Bali itu merupakan ornamen Semana Santa Larantuka.

Ia mengatakan, ornamen suci itu diikutsertakan dalam Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang digelar di Karang Asam, Bali yang digelar dari 21 hingga 24 Juni 2019.

“Yang dibawa hanya ornamen berupa pakaian dengan bendera saja, tidak ada patung yang dibawa,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (23/6/2019).

Baca juga : Larantuka Diusulkan Jadi Kota Suci Umat Katolik Indonesia

Ia menjelaskan, ornamen itu dibawa dalam Rakernas JKPI karena Flotim termasuk salah satu kota di Indonesia yang masuk dalam jaringan kota pusaka.

“Flores Timur merupakan satu-satunya kerajaan katolik di Indonesia dan sejarahnya bahwa kerajaan sudah menyerahkan tongkat kerajaan ke Bunda Maria. Ini yang mau kita tunjukan ke dunia bahwa inilah keunikan kita, menghormarti Bunda Maria yang puncaknya adalah Semana Santa,” jelasnya.

Disetujui Raja dan Konferia

Menurut dia, ornamen Semana Santa yang dibawa dalam Rakernas itu atas persetujuan konferia dan pihak gereja. Selain itu, ia juga mengaku kebijakan membawa ornamen suci itu juga telah disepakati pihak kerajaan Larantuka dan pemerintah daerah Flotim.

“Konferia, gereja, raja dan bupati/wakil bupati sudah setuju. Kita hanya ajukan, Kewenangannya ada pada konferia, disetujui maka ornamen itu dibawa. Jika tidak disetujui, tidak mungkin dibawa. Konferia yang bertanggungjawab untuk semua itu,”

Ia menambahkan, ornamen Semana Santa yang dibawakan dalam rakernas JKPI itu tidak bertujuan komersial. Tujuannya mau menunjukan bahwa Larantuka adalah satu-satunya kerajaan katolik di Indonesia yang menghormati Bunda Maria sebagai ratu kota Larantuka.

“Dalam rakernas itu ada pawai pusaka dan pagelaran budaya pusaka, jadi bukan hura-hura,” pungkasnya. (Terupdate/L6)