Connect with us

Flores Timur

Pemda Flotim Akan Gelar Forum Rapat Evaluasi Bahas Polemik Ornamen Semana Santa

Berita Terupdate

Published

on

LARANTUKA– Adanya ornamen Semana Santa yang dilibatkan dalam Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Karang Asem, Bali menuai polemik. Umat katolik Larantuka meyakini, keluarnya ornamen suci Semana Santa dalam rangka promosi wisata adalah tabu.

Mengatasi polemik itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Flotim mengambil langkah bijak. Rencananya, Pemda akan menggelar forum rapat evaluasi yang melibatkan semua pihak membahas persoalan tersebut.

“Saya minta semua bisa menahan diri untuk mengeluarkan kata-kata yang dapat menimbulkan masalah baru. Nanti ada forum rapat evaluasi yang melibatkan Pemda, Bapak Uskup, gereja, konfreria, kerajaan Larantuka dan suku semana, supaya sama berbicara dari hati ke hati di sana,” ujar Wakil Bupati Flotim, Agus Payong Boli kepada wartawan, Rabu (26/6/2019).

Baca juga : Umat Katolik Flores Timur Kecam Adanya Ornamen Suci Semana Santa di Bali

“Kira-kira masalah pokoknya apa, kita cari jalan keluarnya. Kita jangan ributkan terus di medsos, itu juga tidak tepat dan bisa timbulkan biasan masalah baru. Apalagi ini berkaitan dengan konteks tradisi, adat budaya yang sakral juga iman khatolik devosi kepada Bunda Maria/tuan Ma,” sambungnya.

Ia mengatakan, Pemda punya niat mulia untuk menjadikan kota Larantuka masuk dalam JKPI karena Larantuka merupakan satu-satunya kerajaan katolik dan pertama di Indonesia bahkan di Asia.

Dalam sejarahnya, Kota Larantuka masuk dalam jaringan Kota Pusaka karena menjadi kerajaan katolik pertama di Indonesia yang menyerahkan tongkat kerajaan kepada kuasa dan perlindungan Bunda Maria.

Sebagaimana historis religiusnya bahwa oleh Raja Ola Adobala yang dibaptis bergelar Don Fransico Ola Adobala Diaz Vieira de Godinho  pada tahun 1665 memperkarsai penyerahan tongkat kerajaan berkepala emas kepada Bunda Maria Reinha Rosari dan pada tanggal 8 september 1886 oleh Raja Don Lorenzo Usineno II DVG Raja ke-10 Larantuka menobatkan Bunda Maria sebagai Ratu Kerajaan Larantuka.

Baca juga : Ornamen Suci Semana Santa Dibawa ke Bali, Konferia : Ini untuk dukung program pariwisata

Patung Tuan Ma/Bunda Maria di arak keliling Kota Larantuka pertama kalinya oleh Raja Don Gaspar I pada tahun 1665. Sejak kerajaan Larantuka diserahkan ke Bunda Maria sebagai Ratu, sejak saat itu, Larantuka disebut Kota Reinha Rosari yang artinya kota Ratu yang tradisi keagamaan Semana Santa tetap bertahan di hati umat katolik hingga saat ini dengan model devosi tersendiri yang sakral.

“Inilah menjadi alasan pemerintah memfasilitasi Larantuka masuk dalam JKPI dan ikut Rakernas JKPI di Bali dengan berbagai kemasan acaranya, dengan satu harapan ada perhatian khusus ke depan oleh semua pihak. Jadi tidak ada upaya komersialisasi atau motif negatif lainnya,” katanya.

Menanti Kepulangan Uskup

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan pewaris kerajaan Larantuka, Don Tinus DVG dan elemen-eleman Semana Santa lainnya untuk bersama-sama melakukan rapat evaluasi.

Selain pihak pewaris kerajaan, Pemda juga berkordinasi dengan pihak gereja melalui Romo Deken Larantuka Bernadus Kerans,Pr selaku Direktur Agung Konfreria.

“Kita tunggu yang mulia Bapak Uskup Larantuka kembali dari Roma. Nantinya dengan pewaris Kerajaan Larantuka dan pihak semana santa lainnya utk bersama melakukan rapat evaluasi,” imbuhnya.

“Marilah kita sama-sama belajar pada  semangat sikap hidup Bunda Maria yakni menyimpan semua perkara di dalam hatinya dan senantiasa mendoakan setiap orang yang datang padanya,” tambahnya.

Ia berharap dengan peristiwa ini membuat umat katolik semakin tahu banyak tentang tradisi budaya Semana Santa dan devosi kepada Bunda Maria/tuan Ma.

“Kita harus bisa membedakan mana hal yang boleh dipertontonkan dan mana hal yang tidak boleh karena bernilai sakral imani dan tentu semakin menambah iman kekatolikan kita dan penghormatan khusus pada Bunda Maria,” tandasnya.

Ia berharap semua pihak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa menimbulkan bias prepsepsi.

“Lebih elok nanti disharingkan dalam rapat bersama supaya clear dengan satu tujuan Kota Larantuka harus masuk dalam JKPI dengan nilai historis religiusnya yang unik dan bertahan sudah 500an tahun dan tetap lestari hingga kini,” pungkasnya. (Terupdate/L6)