Connect with us

Inspirasi

Puisi-puisi Paul Ama Tukan

Berita Terupdate

Published

on

Memoria

Kelak ingatan belajar menyulam tabah yang jatuh dari tangan juru doa
Mengingatmu tidak lebih kejam dari memoria
Ketika untuk kesekian kali jubahku mencatat hasrat pada ekaristi
Lagu terakhir menamai dirinya kasih
“aku miskin supaya kamu menjadi kaya”
Betapa air mata mencekik tubuh melelehkan bening mata pada buku
Memoria melipat jubahku lekas
Menitipkan sekulum senyum
Lalu menabur sebait syair pada cita yang kekal
“ Janji tidak lebih kejam dari menyembah masa depan”

Nenuk, 2019

Pesta

Masa berjubel meneriakkan keadilan
Di tengah kota seorang berlagak pahlawan
Membawa berkas perkara yang malu mengatakan aduh
Diam dihimpit angkuh
Para juru pena pun menulis dengan tinta yang garang
Sembari bertanya
Keadilan ini milik siapa?

Sel 9 Arnoldus, 2019

Mengapa

__ona indri
Ia setia mengecup setiap desah dan doa
Yang terucap dari catatan lampau
Mengingatmu adalah menabur doa
Sebab setia hanyalah usaha mendamaikan jarak dan lelah
Ketika rindu tumpah di dalam kepala
kenangan yang telah karam dbangkitkan dari jasad
Sebab kaulah wanita yang mengukir senja pada tiang awan
Setiap hari-hariku..

Nenuk, 2019

Ilustrasi

Hari kembali mengaduh pada catatan kenanganku
Ketika ia berhasil meluluhkan hatiku
Menuai sebuah cara yang asing dalam peradaban
Adakah Tuhan sedang tertidur lelap?

Nenuk, 2019

Kala Hari tak Punya Alasan untuk Kembali

Dengan berjalan memakai kepala, ingatan menjelma kupu-kupu
Masuk di antara benci dan ikhtiar lalu mengental
Kekinian ibarat dingin yang tak ingin memeluk api
Menjadi hampa yang ketahuan berdusta
Sedang ketika tiada yang merindukan kata,
Hari menjadi sesak napas di helai mimpi
Memilin entah ketika kemarin ditemu kemelut
Matahari tak ingin disebut mata-mata, musim tak ingin disebut kemarau
Dan lampu menjadi pijar api yang takut pada kegelapan

Apa kabar hari ini?
Sebelum semuanya kembali
Bulan bersileweran di pucuk senja
Kala itu…

Nenuk, 2019

 

Sandal Jepit

Mereka mengalaskan keangkuhan di pundak gerah
Kata-kata ripuk di sela jari
Mengingat dulu yang selalu berandai
Tentang sejarah, buku dan pena
Biangllala kah itu?

 

*Paul Ama Tukan, berasal dari pulau Solor. Bergiat pada komunitas Sastra Kotak Sampah. Saat ini 
tinggal di Novisiat SVD St. Yosef Nenuk, Atambua Timor. Jatuh cinta pada puisi karena gadis bernama Sesilia, sebuah nama dalam ilusi.

Continue Reading