Connect with us

Hukrim

Kisah Haru Siswi SMA di Kupang 4 Tahun Jadi Korban Budak Seks Kakek Bejat

Berita Terupdate

Published

on

KUPANG– Remaja 16 tahun berinisial SM, warga Pantai Beringin, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, NTT kini harus menanggung derita. Siswi SMA ini jadi korban budak seks kakek 70 tahun, Zainal Albar hingga mengandung. Kini, usia kandungan SM sudah delapan bulan.

Paman korban, Chornelis Pello (53) menuturkan, Zainal yang dikenal orang kaya di desa itu menyetubuhi korban sejak 2014 lalu. Saat itu, korban masih berusia 12 tahun.

“Pelaku mencabuli korban pertama di rumah korban sendiri,” tuturnya kepada wartawan, Kamis (26/6/2019).

Baca juga : Aksi Bejat Pria Kupang Tega Cabuli 3 Bocah Kakak Beradik 

Saat didatangi pelaku, korban diminta orangtuanya nyusul ke dalam kamar saat Zainal masuk. Saat itu, korban sempat melawan, namun ia diancam menggunakan senjata tajam oleh Zainal. Aksi bejat kakek 70 tahun ini terus berlanjut hingga korban berumur 16 tahun.

Untuk melancarkan aksinya, Zainal memberikan berbagai barang ke orangtua korban berupa satu unit sepeda motor, satu unit genset serta pemasangan meteran di rumah korban.

“Setiap kali Zainal berhubungan dengan korban, orangtua korban selalu diberi uang,” ujar mantan kepala Desa Pantai Beringin dua periode itu.

Ia mengatakan, tak jarang, pelaku melampiaskan nafsu bejatnya di rumah warga. Saat mendatangi rumah warga, pelaku dengan iming-iming uang meminta pemilik rumah untuk memanggil korban. Gadis belia itu seakan tersandera. Ia pun pasrah dijadikan budak seks pengusaha ikan dan garam itu.

Dipaksa Gugurkan Kandungan

Istri Chornelis, Weli Marlen Mesak (35) menuturkan, sejak februari 2019, korban menghilang dari rumah tanpa ada kabar. Mereka pun berinisiatif mencarinya. Hingga akhirnya korban diketahui berada di panti rehabilitasi sosial di Naibonat.

Baca juga : Fakta Tragis Gadis Difabel di NTT, Terupdatecam dan Diperkosa Hingga Hamil 

Kepada keluarga, korban menceritakan semua aksi bejat kakek Zainal. Ia mengaku aksi Zainal itu didukung oleh kedua orang tuanya, bahkan mereka mengintimidasinya jika tidak melayani napsu bejat Zainal.

“Kita ajak pulang tetapi korban ketakutan,” tuturnya.

Pada tanggal 20 Juni, mereka kembali mendatangi panti rehabilitasi untuk mengecek kondisi korban, namun tidak diizinkan lagi oleh pihak panti dengan alasan harus ada izin dari Polres Kupang.

Korban dititipkan ke panti rehabilitasi karena tak tahan lagi dengan perlakuan itu. Ia akhirnya diarahkan ke rumah perempuan. Dari rumah perempuan, kemudian mereka membuat laporan di Polres Kupang. Entah apa alasannya, korban kemudian diarahkan untuk tinggal di panti rehabilitasi hingga sekarang.

Selama di panti rehabilitasi, orangtua korban pernah mengunjunginya, namun korban tak mau menemui mereka karena trauma.

Karena tak bisa menemuinya, orang tuanya lantas bersama seorang anak buah Zainal bernama, Joni Malelak menjemput paksa korban di panti rehabilitasi. Mereka menipu korban, bahwa kakeknya sakit berat, sehingga butuh kehadirannya.

Namun rupanya, itu hanyalah modus belaka. Kakek korban ternyata sehat-sehat saja. Sesampianya di rumah ia sudah ditunggu Zainal. Saat itu melalui orangtua korban, Zainal memaksa korban untuk mengkonsumsi ramuan untuk menggugurkan kandungan.

Proses Hukum Mandek

Ia mengatakan, meski sudah dilaporkan ke Polres Kupang, namun tidak ada tindak lanjut sama sekali dari pihak kepolisan. Keluarga merasa sakit hati, melihat Zainal masih bebas berkeliaran.

Baca juga : Kehamilan Siswi SMP Ungkap Aksi Bejat Mahasiswa Kupang

Bersama kuasa hukum, keluarga akhirnya mendatangi Polda NTT, Kamis (27/6/2019). Mereka meminta agar kasus ini segera diambil alih Polda NTT karena mereka menduga ada “permaianan” yang dilakukan penyidik Polres Kupang.

Kuasa Hukum, Dedy Jahapay meminta agar Polda NTT mengambil tindakan hukum dan segera memeriksa penyidik Polres Kupang yang menangani perkara ini.

“Laporan korban tidak ditindaklanjuti, ini ada apa? korban ini anak di bawah umur yang seharusnya segera mendapat perlindungan hukum. Saya minta Polda segera periksa penyidik Polres Kupang,” tegas Dedy.

Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Simson Amalo ketika dikonfirmasi malah meminta wartawan mengarahkan korban dan orangtuanya ke Polres Kupang guna mendapat penjelasan secara hukum.

“Korban saja sampai sekarang tidak tahu berada dimana. Korban sementara dicari kedua orangtuany. Pak (wartawan) temui dulu kedua orangtua korban, coba tanya kasusnya, korban diduga ada sama pacarnya,” katanya. (DIAN/LIPUTAN6)